Tuesday, October 19, 2010

JOGJA JAVA CARNIVAL

Sabtu, 16 Oktober 2010. Sejak pukul 16.00 wib, sepanjang jalan Malioboro sampai alun-alun utara Kota Yogyakarta sudah mulai ramai dengan orang-orang yang hendak menyaksikan perhelatan akbar tahunan Kota Yogyakarta; Jogja Java Carnival. Sejak tiga tahun yang lalu, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar acara serupa dalam rangka memperingati HUT Kota Yogyakarta.

Menurut Pak Hery, Walikota Kota Yogyakarta, JJC merupakan perhelatan seni budaya yang diharapkan menjadi ciri khas Kota Yogyakarta yang diharapkan mampu meningkatkan jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke Kota Yogyakarta, sekaligus menegaskan eksistensi Yogyakarta sebagai kota budaya.

Dalam perhelatan yang diselenggarakan pada malam hari itu, puluhan kelompok dari berbagai lapisan menyajikan berbagai atraksi yang di kemas begitu apik dan menarik. Sebelumnya mereka melakukan pawai dari taman parkir abu bakar ali, menyusuri jl. Malioboro, jl. Ahmad Yani menuju alun-alun utara untuk tberbagai atraksi di depan Gubernur DIY, Menteri Budaya dan Pariwisata, Walikota Yogyakarta dan sejumlah tamu undangan serta ribuan penonton yang berasal dari dalam maupun luar kota Yogyakarta.

Para penonton yang begitu antusias menyaksikan acara tersebut, berjubel disepanjang jalan. Mereka rela berdiri berdesak-desakan demi menyaksikan acara kebanggaan Kota Yogyakarta itu. Bahkan banyak diantara mereka yang memanjat menara, baliho dan tembok pagar di sepanjang jalan demi mendapatkan tempat yang paling tepat untuk dapat melihat peserta pawai. Tua muda, besar kecil, bahkan beberapa wisatawan asing turut serta dalam keramaian ini. Sebuah keluarga wisatawan asing, keluarga muda dengan tiga anak kecil mereka, dengan asyiknya larut di tengah kerumunan penonton.

Saking banyaknya penonton, jalan sepanjang Malioboro sampai alun-alun utara macet total. Untuk dapat bergerak pun susah. Apalagi untuk berjalan. Dalam situasi seperti itulah, terjadi saling senggol, saling gesek, bahkan saling injak. Untunglah, semua menyadari bahwa mereka tahu resiko menonton acara itu adalah mereka harus rela berdesak-desakan. Seorang pedagang asongan, bapak-bapak paruh baya bahkan sempat membuat orang-orang tertawa tergelak-gelak ketika ia berteriak kesatikan karena "anu" nya tergencet oleh pengunjung lain. Di tempat lain, seorang ibu bertengkar dengan seorang ibu lain karena anaknya terinjak kakinya dan si ibu yang menginjak malah marah-marah kepada anak itu.

"Harmonight", yang menjadi tema Jogja Java Carnival tahun 2010 kali ini sungguh menyuguhkan suatu harmoni kehidupan yang semarak. Kemeriahan Jogja Java Carnival semakin lengkap dengan pesta kembang api yang dilaksanakan di beberapa titik sebagai penutup acara itu. Sebuah pesta kembang api yang cukup spektakuler.

Semoga kemeriahan dan harmony di malam Jogja Java Carnival sungguh berimbas pada terwujudnya harmony dalam kehidupan, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.

Tuesday, July 13, 2010

ANGKRINGAN PAK JUM

Angkrigan Pak Jum menjadi tempat favorit para punggawa pamong praja Negeri Senopati 2930. Hampir setiap hari, dari jam 9 sampai jam 14, angkringan Pak Jum selalu ramai dengan obrolan para pamong praja, mulai dari omongan soal politik, ekonomi, hukum, soal korupsi, soal teroris, sampe video mesum yang pelakunya mirip artis terkenal.

Seperti biasanya, sekitar jam 10, para pamong praja Negeri Senopati 2930 sudah mulai nongkrong di angkringan pak jum. Sebenarnya kebiasaan nongkrong ini suatu yang tidak baik, mengingat pada jam-jam itu seharusnya mereka sedang sibuk bekerja melaksanakan tugas dan kewajiban mereka masing-masing.

Tetapi angkringan pak jum bagi mereka sudah seperti forum informal yang seringkali menelorkan ide-ide brilian, sekaligus tempat menyalurkan uneg-uneg yang tidak sempat diungkapkan (mungkin lebih tepat di katakan sebagai tempat "nguda rasa").

Aku sendiri sedang asyik menikmati secangkir kopi pahit, ketika Mas Pur dengan gayanya yang khas; glendah-glendeh seperti 'macan luwe' (karena memang lapar) datang dan mengambil tempat di sebelahku. Sambil menepuk pundakku dan memberikan senyum merayu, dia menyapaku dengan ramah. Biasanya kalau sudah begitu dia minta gratisan..hihihii...karena sudah terbiasa, jadi lagaknya sudah terbaca...

"Sugeng enjang Den Bagus, pripun kabaripun.,..rak nggih sehat to..?" sapanya sambil cengengesan.
"Sehat Kang Mas..." sahutku sekenanya sambil kembali menyeruput kopi pahitku. "Kang Mas juga sehat to..?kok ndak semangat gitu ada apa je..."
"Yaaahh..begini ini, nasib pegawai rendahan...selalu di tipu sama atasan...."
Mas Pur menyahut sekenanya sambil mengelus-elus perutnya yang gendhut. Biasanya lagi, kalau sudah begitu ia akan memesan mie rebus. "Mie rebus pak jum, ndak usah pakai telur, ndak pakai sayur, airnya jangan lupa di ganti. jangan pakai air rebusan mie.." nah, betul kan? Kalau sudah tabiat, mudah ditebak kemauannya.
"Lha kok mau di apusi (ditipu), ya jangan mau donk..kalau aku jadi panjenengan ya Kang Mas, menghadapi buaya ya harus dengan cara kancil.."
Mas Pur mengernyitkan dahinya "Maksudmu bagaimana?"
Aku diam sejenak, ingin tahu bagaimana reaksinya lebih lanjut. Mas Pur menatapku dengan penasaran. AKu menyondongkan badanku mendekat kepadanya, dan setengah berbisik, menjawab ;"Kalau Mas Pur merasa di tipu oleh boss, ya Mas Pur ganti tipu dia. Kayak kancil nipu buaya itu lho.." Aku sengaja memanas-manasi Mas Pur. Memprovokasinya untuk balas dendam..(wah...sebenarnya yang kayak gini ndak boleh ya...).
"Gini Mas Pur. Mas Pur buat saja proposal, ajukan permohonan dana. Kalau boss ndak menyetujui dengan alasan ndak ada dana, Mas Pur langsung tembak; lha dana dari dinas perbukuan daerah yang kemaren diterimakan itu untuk apa... begitu... paling nanti si boss kaget...kok Mas Pur bisa tahu...kalau sudah begitu, nanti dia jantungnya kumat... terus ko'it....haa..ha...ha...ha....."

Kadang memang banyak pemimpin yang bertindak semena-mena terhadap anak buah. Seringkali anak buah hanya dipandang dan diperlakukan sebagai obyek yang dapat mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka; entah kepentingan ekonomi, politik maupun popularitas mereka. Lihat saja; mereka punya banyak program yang diberi judul "pemberian bantuan"; bantuan untuk operasional sekolah, bantuan untuk keluarga miskin, bantuan ini, bantuan itu. Padahal semestinya yang seperti itu tidak tepat kalau di sebut bantuan. Karena sudah tugas dan tanggungjawab mereka sebagai pemimpin untuk menyejahterakan anak buah. Tapi ya itu tadi. Mereka ingin di anggap sebagai orang yang baik, memiliki kepedulian, suka membantu dan menolong seperti sinterklas...padahal.......

Akhirnya Mas Pur ngluyur pergi setelah menghabiskan mie rebusnya, meninggalkan satu kalimat penutup yang selalu sama.."Pak Jum, dihitung ya...nanti sama Den Bagus ini..."

Halah..dasar orang, kalau ada maunya....