Sabtu, 16 Oktober 2010. Sejak pukul 16.00 wib, sepanjang jalan Malioboro sampai alun-alun utara Kota Yogyakarta sudah mulai ramai dengan orang-orang yang hendak menyaksikan perhelatan akbar tahunan Kota Yogyakarta; Jogja Java Carnival. Sejak tiga tahun yang lalu, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar acara serupa dalam rangka memperingati HUT Kota Yogyakarta.
Menurut Pak Hery, Walikota Kota Yogyakarta, JJC merupakan perhelatan seni budaya yang diharapkan menjadi ciri khas Kota Yogyakarta yang diharapkan mampu meningkatkan jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke Kota Yogyakarta, sekaligus menegaskan eksistensi Yogyakarta sebagai kota budaya.
Dalam perhelatan yang diselenggarakan pada malam hari itu, puluhan kelompok dari berbagai lapisan menyajikan berbagai atraksi yang di kemas begitu apik dan menarik. Sebelumnya mereka melakukan pawai dari taman parkir abu bakar ali, menyusuri jl. Malioboro, jl. Ahmad Yani menuju alun-alun utara untuk tberbagai atraksi di depan Gubernur DIY, Menteri Budaya dan Pariwisata, Walikota Yogyakarta dan sejumlah tamu undangan serta ribuan penonton yang berasal dari dalam maupun luar kota Yogyakarta.
Para penonton yang begitu antusias menyaksikan acara tersebut, berjubel disepanjang jalan. Mereka rela berdiri berdesak-desakan demi menyaksikan acara kebanggaan Kota Yogyakarta itu. Bahkan banyak diantara mereka yang memanjat menara, baliho dan tembok pagar di sepanjang jalan demi mendapatkan tempat yang paling tepat untuk dapat melihat peserta pawai. Tua muda, besar kecil, bahkan beberapa wisatawan asing turut serta dalam keramaian ini. Sebuah keluarga wisatawan asing, keluarga muda dengan tiga anak kecil mereka, dengan asyiknya larut di tengah kerumunan penonton.
Saking banyaknya penonton, jalan sepanjang Malioboro sampai alun-alun utara macet total. Untuk dapat bergerak pun susah. Apalagi untuk berjalan. Dalam situasi seperti itulah, terjadi saling senggol, saling gesek, bahkan saling injak. Untunglah, semua menyadari bahwa mereka tahu resiko menonton acara itu adalah mereka harus rela berdesak-desakan. Seorang pedagang asongan, bapak-bapak paruh baya bahkan sempat membuat orang-orang tertawa tergelak-gelak ketika ia berteriak kesatikan karena "anu" nya tergencet oleh pengunjung lain. Di tempat lain, seorang ibu bertengkar dengan seorang ibu lain karena anaknya terinjak kakinya dan si ibu yang menginjak malah marah-marah kepada anak itu.
"Harmonight", yang menjadi tema Jogja Java Carnival tahun 2010 kali ini sungguh menyuguhkan suatu harmoni kehidupan yang semarak. Kemeriahan Jogja Java Carnival semakin lengkap dengan pesta kembang api yang dilaksanakan di beberapa titik sebagai penutup acara itu. Sebuah pesta kembang api yang cukup spektakuler.
Semoga kemeriahan dan harmony di malam Jogja Java Carnival sungguh berimbas pada terwujudnya harmony dalam kehidupan, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.